LOGIN키지마 미츠키(杵島 充希)는 대기업 오와다 그룹 회장의 딸이다. 그런 미츠키는 오와다 그룹과 라이벌 관계에 있는 키지마 그룹의 사장, 키지마 소지(杵島 宗司)와 결혼을 하게 된다. 하지만 이 결혼은 위장 결혼으로, 3년이라는 기간 한정으로 이혼하기로 한 ‘섹스리스 결혼’이었다. 그러던 결혼 2년째가 되던 기념일에, 미츠키와 소지는 섹스리스 결혼의 맹세를 깨고 선을 넘고 만다. 이 일로 쌍둥이를 임신하게 된 미츠키는, 이를 계기로 위장 결혼이 아닌 진짜 부부로서 살아가자고 소지에게 제안하려 마음먹는다. 그러나 임신 사실이 밝혀진 바로 그날, 미츠키는 소지로부터 이혼 서류를 내밀리고 만다.
View More"Argh!" Shu Jin terbatuk keras, tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum jatuh berlutut di tanah berbatu.
Sebuah pukulan yang tak terduga dari kekasihnya, Wu Chao-Xing dengan telak mendarat tepat di perutnya, tepat di bawah pusar—dantian, inti kekuatan spiritual seorang cultivator.
Rasa sakit yang menusuk menjalar dari pusat tubuhnya, membuatnya menggigil. Napasnya memburu, tangannya refleks meraba perutnya, seolah berharap itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan lebih kejam dari yang bisa ia bayangkan.
Dantian-nya… hancur.
Mata Shu Jin melebar tak percaya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat ia mendongak menatap Wu Chao-Xing. "Xing'er… apa yang telah kau lakukan...?"
Namun, gadis yang selama ini ia anggap sebagai belahan jiwanya kini berdiri dengan tatapan yang berbeda.
"Shu Jin!" Wu Chao-Xing mendengus, melipat tangannya dengan ekspresi jijik. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun ini hanya demi hari ini!"
Shu Jin terhuyung, matanya masih mencari secercah harapan bahwa ini semua hanya kesalahpahaman. "Bukankah kita akan menjadi suami-istri? Kenapa kau melakukan ini, Xing'er?"
Wu Chao-Xing mencibir. "Suami-istri? Hanya dalam mimpimu, Shu Jin! Aku muak selalu berada di dekatmu dan memanggilmu Jin'ge... Cih!"
Napas Shu Jin tersengal saat rasa hangat yang selama ini menjadi sumber kekuatannya mulai terangkat dari tubuhnya—meninggalkan kehampaan yang membuat tubuhnya gemetar seperti kedinginan.
Cahaya hitam itu akhirnya memadat menjadi sebuah bola kecil—Mutiara Hitam. Ia melayang pelan dari dada Shu Jin, berpendar dengan aura mencekam yang membuat udara di sekitarnya menjadi dingin dan berat.
Shu Jin hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat mutiara itu melayang menuju tangan Wu Chao-Xing.
Wu Chao-Xing menyambut mutiara itu dengan senyum yang tak lagi menyembunyikan niat busuknya.
"Ah, akhirnya...!" gumamnya dengan mata yang berkilat kegirangan.
Kemudian, tawanya meledak, menggema di antara rerimbunan pohon persik yang kini kehilangan keindahannya.
"Begitu bodohnya kau, Shu Jin!" serunya dengan nada mengejek yang menusuk lebih tajam dari pedang. "Selama ini kau menelan pil mutiara yang aku berikan dengan senyum polos. Tidak pernahkah kau curiga? Pil-pil itu bukan untuk memperkuat tubuhmu, melainkan untuk menyedot perlahan-lahan energi spiritualmu—hingga Kristal Mutiara Hitam dalam tubuhmu cukup matang!"
Mata Shu Jin bergetar. "Apa... maksudmu...?" bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Wu Chao-Xing melangkah mendekat, dengan aura angkuh yang membungkus seluruh tubuhnya. "Kau warisan terakhir dari garis keturunan Pedang Spiritual, Shu Jin. Darahmu... kekuatanmu... semua itu terkunci di dalam Kristal Mutiara Hitam sejak kau dilahirkan. Tapi sekarang... semuanya telah menjadi milikku."
Ia mengangkat Mutiara Hitam tinggi ke langit. "Dengan ini, aku akan menjadi Ahli Pedang Sejati! Tak seorang pun bisa mengalahkanku lagi! Tapi kau..." Ia menunduk, menatap Shu Jin dengan pandangan merendahkan, "...kau hanyalah sampah yang sudah tak bisa berkultivasi."
Shu Jin jatuh berlutut. Napasnya pendek-pendek. Dantian-nya terasa hampa, seperti sumur yang dikuras hingga kering. Tapi kehampaan itu tak sebanding dengan yang ia rasakan di dalam hatinya.
Pengkhianatan.
"Aku... percaya padamu..." suara Shu Jin pecah, lirih dan putus asa. "Mengapa... mengapa kau melakukan ini?"
Wu Chao-Xing mendekat, membungkuk sedikit, lalu berbisik di telinganya.
"Karena cinta dan kepercayaan adalah kelemahanmu, Shu Jin. Asal kau tahu... aku tidak pernah mencintaimu."
Kemudian ia membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah penuh kemenangan, membawa Mutiara Hitam dalam genggamannya—sementara Shu Jin tetap berlutut di tengah bayangan senja yang menyesakkan, terbungkus kesedihan yang tak dapat disembuhkan.
Namun tiba-tiba—suatu dorongan muncul. Bukan dari dantian, bukan dari kekuatan spiritual yang telah hilang, tetapi dari sisa-sisa harga diri yang tercabik.
“BERHENTI!”
Mata Shu Jin melebar penuh tekad, dan ia mencoba berdiri, menggertakkan giginya walau tubuhnya bergetar hebat.“Kenapa... kenapa aku...” gumamnya lemah, matanya berkedip cepat menahan pusing yang tiba-tiba menghantam kepalanya.
Wu Chao-Xing berhenti melangkah, lalu tertawa rendah, penuh sinisme. Ia menoleh sedikit, bibirnya melengkung membentuk senyum licik.
“Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu tetap bisa mengejarku? Aku sudah mencampurkan Pil Pelemas Tulang dalam makananmu semalam… Hahaha! Kau sungguh mudah ditipu. Bahkan lupa kalau aku ini adalah alkemis tingkat tinggi.”
Kata-kata itu menggema, bergulir dalam benak Shu Jin seperti mantra jahat. Tangannya bergetar, mengepal tanah dan bunga persik yang berserakan.
“Kau... iblis betina...” gumamnya, kini nada suaranya berubah. “Kau telah menipuku... mempermainkan hatiku, tubuhku, kekuatanku... Aku bersumpah, akan kubalas semua perlakuanmu... seribu kali lipat!”
Namun Wu Chao-Xing hanya mencibir.
“Masih bisa menggertak rupanya. Menyedihkan. Sudahlah, Shu Jin… kau beruntung aku tidak membunuhmu di tempat ini. Sekarang, kau hanyalah manusia biasa yang tak berguna. Terimalah nasibmu… hahaha!”
Tawa itu bergema seperti gendang kematian. Shu Jin mengerang, mencoba menahan rasa sakit yang menyerbu sekujur tubuhnya. Namun kenyataan lebih kejam dari luka fisik.
“Kau… Uhuk—!”
Tiba-tiba darah segar menyembur dari mulutnya. Shu Jin terkapar tak sadarkan diri, bukan karena lukanya tapi karena sakit hatinya yang tak tertahankan.*****
"Siapa yang membawaku pulang?" tanya Shu Jin saat dirinya tersadar kembali.
Lian Hua, pelayannya menunduk sedikit, lalu menjawab dengan lembut, "Nona Wu, Tuan Muda. Ia yang membawa Anda kembali ke kediaman Shu dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia bilang… Tuan Muda terjatuh dari tebing saat sedang berlatih di Pegunungan Xijing. Tapi tenang saja... tabib sudah memeriksa tubuh Anda. Tidak ada luka dalam yang serius, hanya kehilangan kesadaran akibat kelelahan."
Alis Shu Jin mengernyit. Matanya yang masih sedikit redup kini bersinar tajam. "Tabib? Tabib dari keluarga mana?"
"Tabib dari Keluarga Wu, Tuan Muda…" Lian Hua menjawab dengan hati-hati. "Nona Wu sendiri yang memanggilnya. Ia tampak sangat cemas... wajahnya pucat, hampir menangis saat membawa Anda pulang. Ia bahkan bersikeras menggunakan tabib terbaik dari keluarganya untuk memastikan Anda segera pulih."
“Sudah aku duga…” gumamnya pelan namun tajam seperti bilah pedang. “Iblis betina itu sedang mencoba menutupi jejak busuknya.”
Kepala Shu Jin masih berdenyut, pikirannya buram, tetapi kesadarannya mulai menajam. Kenangan tentang Wu Chao-Xing, tentang pengkhianatan. Namun di balik semua itu, satu hal lain muncul dengan mendesak.
Mata Shu Jin terbuka lebar. "Lian Hua... aku sudah pingsan berapa lama?"
Pelayan itu menundukkan kepala, suaranya kecil. "Sudah lima hari, Tuan Muda..."
“Lima hari?” Shu Jin membenamkan punggungnya ke bantal dengan ekspresi tegang. “Bagaimana dengan... Seleksi Penerimaan Murid dari Sekte Pedang Surgawi? Bukankah… minggu ini?”
“Mengenai seleksi itu...” kata Lian Hua ragu-ragu.
Shu Jin menoleh cepat. “Apa yang telah terjadi, Lian Hua?”
Lian Hua akhirnya membuka mulut. “Nona Wu datang ke hari seleksi dan… ia berbicara langsung dengan Tuan Besar. Ia memohon agar Tuan Muda tetap diizinkan mengikuti seleksi... katanya, ia memiliki pil spiritual dari Keluarga Wu yang dapat membangunkan Anda... untuk sementara waktu.”
Shu Jin menahan napas. Wajahnya terperangah. “Apa maksudmu… aku mengikuti seleksi… dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya?!”
Lian Hua mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Ya… Nona Wu mengklaim bahwa pil itu cukup kuat untuk memulihkan kesadaran Anda selama beberapa jam. Ia tampak begitu yakin… dan Tuan Besar akhirnya menyetujuinya.”
Napas Shu Jin terengah. Antara syok dan bingung, emosinya teraduk-aduk. Ia mencoba mengingat, tapi otaknya seperti tertutup kabut tebal.
"Apa... yang terjadi di seleksi itu? Apakah aku... berhasil lolos?" tanyanya nyaris dengan nada memohon, penuh harap dan ketegangan yang menumpuk di dadanya.
Lian Hua menggigit bibir bawahnya. Ia tidak langsung menjawab.
"Lian Hua! Tolong, katakan padaku... Apa aku lolos?!"
Mata Shu Jin menatap kosong langit-langit kayu di atasnya, tapi pikirannya berkecamuk hebat.
Seorang pelayan laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun masuk dengan langkah tergesa-gesa. Nafasnya terengah, dan wajahnya... pucat seperti telah melihat kematian.
“Tuan Muda!” serunya dengan suara gemetar. “Sesuatu yang buruk… sangat buruk telah terjadi!”
“엄, 엄마!? 어째서 여기에!?”나는 정말로驚いて 나도 모르게 자리에서 일어섰다.“어째서 여기에──는 무슨. 여긴 내가 근무하는 병원이야. 그보다 미츠키 너야말로 어쩌다 여기 있는 거니? 왜 구급차에 실려 와서 입원까지 한 거야?”그 말을 듣고 나는 아차 싶었다.그렇구나. 옆 동네 종합병원──.그곳은 응급구조사인 나의 친어머니, 쿠ツナ 미도리가 근무하는 병원이었다.“일부러 이 병원을 지목한 건 아니야. 구급대원 분들이 주변 병원에 미츠키를 받아 줄 수 있는지 요청했을 때, 마침 이 병원에서 수락해 준 거지.”사치에는 약간 으스대는 표정을 지었다.훌륭하게 나를 놀래켜 주는 데 성공해서, 아주 신이 난 기색이었다. ※ ※ ※나는 친어머니인 쿠츠나 미도리와 정기적으로 만나고 있었다.나의 아버지 오와다 Tsuyoshi와 어머니 쿠츠나 미도리는 결혼은 허락되지 않았지만, 가끔 만나는 것까지는 허용되어 있었다.하지만 체면도 있는지라 자주 만날 수는 없었고, 내가 어머니를最後に 만난 것은 정략결혼으로 혼인 신고を 하고 신혼집으로 이사했을 때가 마지막이었다.나는 지금 내가 가장 보고 싶은 사람이 누구였는지를 떠올렸다.그것은 다름 아닌 어머니, 쿠츠나 미도리였다.어째서 까맣게 잊고 있었던 걸까.그 사실に 나는 스스로 놀랐지만, 어머니의 모습을 보고 안도감에 감싸이자 또다시 서서히 눈물이 차올랐다.그리고 나는 어머니 앞에서 훌쩍이며 눈물을 흘렸다.요 며칠, 나는 울기만 하고 있다.그런 나を 어머니는 다정하게 안아 주셨다.어머니의 품에 안겼다는 기쁨과 안도감에, 내 눈물은 더욱 걷잡을 수 없이 쏟아졌다.
내가 눈을 떴을 때, 시선이届いた 先には 낯선 천장이 있었다.“어라? 여기는……?”내가 그렇게 생각함과 동시에 “겨우 눈이 떴어?” 하는 목소리가 들려왔다.소리가 난 쪽으로 고개를 돌리니, 그곳에는 팔짱을 낀 채 으름장을 놓듯 서 있는 사치에가 나를 노려보고 있었다.미간을 찌푸리고 입을 앙다문 것이, 꽤나 화가 난 기색이었다.“여기는 옆 동네 종합병원이야. 미츠키 너, 복통을 호소하다가 의식을 잃었어. 구급차로 여기까지 실려 온 거 기억나?”약간 따져 묻듯 던져진 질문に 나는 “어렴풋이……” 하고 답했다.“정말이지! 얼마나 걱정했는지 알아!? 미츠키 네 몸은 이제 너 혼자만의 몸이 아니라고! 좀 더 그 사실을 제대로 자각해 줘!”사치에는 정말로 화가 나서 있었다.대단한 기세로 쏘아붙였지만, 나는 위축되지 않았다.왜냐하면── 사치에가 이렇게까지 진심으로 화를 내는 것은, 나를 진심으로 걱정해 주고 있기 때문임을 알고 있었기 때문이다.그렇기에 나는 사치에가 그렇게 화를 내 주는 것이 오히려 기뻤다.그리고 “응. 정말 미안해” 하고 사과하자, 그와 동시에 눈물이 왈칵 쏟아져 나와 나는 어린아이처럼 엉엉 울음을 터뜨렸다. ※ ※ ※“그나저나, 정말 잘도 자더라.”사치에는 어이없다는 투였다.“내가 얼마나 잤는데?”나는 한참을 서럽게 울고 난 뒤, 겨우 진정을 되찾은 참이었다.“쓰러져서 구급차로 실려 온 게 14시경이었어. 그리고 지금은 이제 곧 16시고. 말해 두겠는데 2
“미츠키!”누군가 그리 부르는 소리에 나는 고개를 들었다.……어라? 여기가 어디더라?나는 순간적으로 지금 내가 어디에 있는지 알 수 없게 되었다.나는── 집에 돌아가서…….그리고 이혼 신고서に 서명을 하고 집을飛び出して──.어디로 향하고 있었더라?어디로 가야 하는 거였지?내가 갈 수 있는 곳이 어디에 있기는 했던가?안 돼…….생각이 안 난다…….“미츠키!”다시 한 번 나를 부르는 목소리가 들렸다.상대를 바라보니, 사치에였다.아……. 사치에구나.중학교 때부터의 친구.금세 친해져 서로를 절친이라 불렀던 친구.고등학교에서도 줄곧 함께였다.사치에가 곁에 있으면 안심이 된다.사치에는 내 어깨를 꽉 잡고는 정면에서 내 얼굴を 들여다보았다.나 역시 떨리는 손을 올려 사치에의 두 손을 잡았다.그 순간, 사치에의 모습이 일그러지며 아지랑이처럼 렁거리기 시작했다.정확히는 내 눈에 눈물이 차올라 시야가 일그러진 것이었다.“사치에…….”절친의 이름을 읊조리자, 나는 차마 소리가 되지 못한 오열로 목이 막혀 아무 말도 할 수 없게 되었다.“무슨 일이야, 미츠키! 아무래도 걱정돼서 보러 온 건데, 너 안색이 아주 질렸잖아!? 소지하고 도대체 무슨 이야기를 한 거야!?”사치에가 내 어깨를 흔들었다.내 고개는 힘없이 덜컹거리며 흔들렸다.소지…&h
내 아버지 키지마 코조가 일군 우리 키지마 그룹은 이제는 국내를 대표하는 대기업이다.그 아버지의 뒤를 이어 사장에 취임한 나의 책무는 이루 말할 수 없이 무거웠다.우리 회사는 세계적으로도 높은 점유율을 자랑하는 유명 기업이지만, 국내에는 점유율을 양분하는 라이벌 기업인 오와다 그룹이 존재한다.지금껏 서로 점유율을 다투며 치열하게 싸워 왔으나, 이제 시대는 글로벌 사회다.눈을 돌려야 할 곳은 세계이지, 국내에서 옴짝달싹 싸우고 있을 때가 아니다.실제로 우리가 그렇게 다투고 있는 사이에 해외 기업들의 대두를 허용하고 말았다.그런 사태에 빠졌을 무렵, 오와다 그룹 회장의 영애와 나의 정략결혼 이야기가 불거졌다.서로의 관계를 두텁게 하고 협력하여 해외 기업의 위협에 맞서자는 계산이었다.요즘 시대에 정략결혼이라니 시대착오도 유분수지만, 이성적으로 생각하면 옳은 판단이다.우리 회사와 오와다 그룹의 이익은 국익으로도 연결된다. 두 기업은 그 정도로 영향력 있는 기업 그룹이었다.여기서 내가 어린애처럼 떼를 쓰며 결혼을 거부해서는 안 될 터였다.오와다 가문에는 두 명의 영애가 있었다.언니인 미츠키와 동생인 아야네.정략결혼이라면 장녀인 미츠키가 선택될 줄 알았으나, 뜻밖에도 동생인 아야네가 선택되었다.오와다 그룹 회장 오와だ Tsuyoshi의 정비는 오와다 마사요였지만, 아무래도 미츠키는 마사요의 친딸이 아니라는 사정이 있는 듯했다.뭐, 그런 사정 따위는 아무래도 상관없었다.나는 아야네와의 교제를 시작했다.나와 아야네는 첫 만남이 아니었다.아야네는 같은 중고일관교의 2년 후배로, 같은 검도부에 속해 있던 구면이었다.학생 시절부터 아야네는 나에게 호감을 표하며 자주 말을 걸어오곤 했다.그렇기에
굿노벨에 오신 것을 환영합니다. 굿노벨에 등록하시면 우수한 웹소설을 찾을 수 있을 뿐만 아니라 완벽한 세상을 모색하는 작가도 될 수 있습니다. 또한, 로맨스, 도시와 현실, 판타지, 현판 등을 비롯한 다양한 장르의 소설을 읽거나 창작할 수 있습니다. 독자로서 질이 좋은 작품을 볼 수 있고 작가로서 색다른 장르의 작품에서 영감을 얻을 수 있어 더 나은 작품을 만들어 낼 수 있습니다. 그리고 작성한 작품들은 굿노벨에서 더욱 많은 관심과 칭찬을 받을 수 있습니다.